June 22, 2021

Cililin, dan Sinyal Radio Pertama dari Hindia

Stasiun Radio Cililin

Sinar bulan musim panas terlihat malas menembus gubuk kami, yang berada di tengah dataran luas sunyi bernama Blaricummer Meent, awal Juni 1919.

“Ngopi dululah Roel,” tawarku kepada pria yang terus memakai headset dan duduk di depan peralatan radio.

Dalam 17 hari, sebuah gubuk panggung kecil dengan peralatan radio penerima berhasil diinstall di tengah dataran Blaricum, beberapa bulan sebelumnya. Gubuk ini dikeliling 21 antena yang semuanya mengarah ke Bandung.

“Musim panas yang tenang ya?” Ujar Roelof Visser sambil menyeruput kopi yang ku bawa dari Priangan. Beberapa bulan sebelumnya, keadaan mungkin buruk. Kawasan Blaricum diterjang banjir sehingga kami harus menggunakan perahu untuk mencapai stasiun penerima ini.

Roel, begitu aku memanggilnya, adalah staf radio di Blaricum yang bertugas untuk menjaga dan mengoperasikan radio penerima. Nun jauh di Bandung, dua instalasi radio pemancar, yakni di Malabar dan Cililin, sedang dioperasikan.

“Dengar, dengar, tolong jauhkan cangkir kopi ini!” panik Roel yang berusaha membetulkan headset di kepalanya, seolah mendengar sesuatu.

Aku cukup terkejut dan segera membantu Roel untuk menyingkirkan cangkir kopi yang ada di dekatnya. “Apa yang dia dengar? Apakah sinyal pertama dari Hindia?” tanyaku heran.

“Tji..li..lin, Tji..li..lin… Ini dari Cililin,” teriaknya senang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *