September 30, 2020

Curug Jompong, dan Larangan Berkunjung di Senin Pagi

Ada dua tempat yang saya ingin kunjungi saat saya berada di Saudi medio 2008-2009. Dua tempat tersebut adalah rel kereta api di jalan Slamet Riyadi, Solo sekaligus mencicipi kereta api feeder Purwosari-Wonogiri. Tempat kedua adalah curug Jompong, di sekitar Nanjung, Kabupaten Bandung. Tempat pertama pernah saya datangi, ketika saya melakukan liputan saat Persib. Di tahun 2012, Persib pernah melakukan laga semifinal Inter Island Cup 2012 di stadion Manahan melawan Persisam Samarinda.
Curug Jompong
Di sela liputan, saya melakukan trip berjalan dari stasiun Purwosari. Saya sedikit kecewa, karena layanan kereta feeder tersebut dihentikan waktu itu. Alhasil, saya hanya bisa menyusuri rel yang ada di sisi jalan Supriyadi.
Kunjungan ke Curug Jompong akhirnya terwujud di tahun ini, itu pun dapat dikatakan karena tak sengaja. Saat itu, Senin (8 Agustus 2016) pagi, saya harus mengambil kameranya bang Ridwan Hutagalung yang ketinggalan di dashboard mobil rental. Kamera yang mungkin berisi foto-foto festival Dieng 2016 itu terdampar di kota militer, Batujajar.

Jalan yang saya tempuh sewaktu berangkat adalah jalur Cimindi – Leuwigajah – Kerkof baru ke Batujajar melewati Cangkorah. Rute itu, menurut Google Maps berjarak 20 km. Walaupun seumur hidup tinggal di Bandung, saya baru kali ini melewati jalur ini. Maklum, perjalanan ke Cililin lebih banyak melewati jalur Selacau, Cihampelas, Cililin, atau dari Cimareme Padalarang.

Yang membuat menarik adalah, jalur ini menembus di antara bukit-bukit pematang tengah. Bukit pematang ini merupakan jajaran bukit yang melintang dari arah Soreang menuju Gadobangkong. Bukit yang berjajar dari selatan ke utara ini, antara lain adalah Gunung Puncaksalam, Pasir Kamuning, Pasir Kalapa, Gunung Lalakon, Pasir Malang, Gunung Selacau, Gunung Padakasih, Gunung Lagadar, Gunung Jatinunggal, dan Gunung Bohong. Dan dari Cimahi ke Batujajar via Cangkorah melewati salah dua bukit-bukit tersebut.

Pematang Tengah Danau Bandung Purba

Disebut Pematang tengah, karena bukit ini memisahkan danau Bandung Purba menjadi dua bagian, yaitu Danau Bandung timur dan barat. Di sela-sela pematang tersebut, danau Bandung timur akhirnya bobol juga di tempat yang kini bernama Curug Jompong.

Setelah kamera ada di tangan, saya memutuskan untuk kembali ke Bandung melalu jalan berbeda. Kali ini, saya memilih jalur melalui jembatan Citarum menuju Cililin dan Soreang melalui Selacau. Bagi sejarah perjuangan bangsa yang besar ini, nama Selacau muncul saat penyerangan Dipati Ukur ke Batavia. Beberapa prajurit Dipati Ukur yang ditinggalkan di sana karena sakit lalu membabat hutan dan tinggal di sana. Saat membabat hutan itulah, mereka menemukan pohon cau (pisang) di antara batu-batu. Dalam bukunya, pak Bachtiar, menuliskan bahwa di Selacau terdapat gunung yang lahir 4 juta tahun yang lalu. Gunung yang mengandung bahan dasit itu, sekarang terus berkurang karena batuannya terus ditambang.

Pengrajin batu Bata di Curug Jompong

Setelah beberapa saat melewati jembatan Citarum baru, saya berbelok ke arah menuju Curug Jompong. Curug tersebut ada di pinggir jalan yang menghubungkan daerah Selacau dan jalur Cimahi-Soreang. Curug itu memang terlihat dari jalan, tapi untuk turun ke bawah, saya meminta tolong kepada seorang pekerja di salah satu pabrik pembuatan bata di sana.

Dengan senang hati, saya turun dan segera memotret apa saja yang saya temui di sana. Tidak lupa, saya harus berhati-hati saat berjalan di antara batuan keras dan licin di pinggir air terjun.

Di sana pun saya bertemu dengan 3 orang yang sedang mengangkat sampah-sampah yang masih bisa dijual. Dengan meminta ijin terlebih dahulu, saya berhasil mendapatkan foto mereka. Kegiatan itu akhirnya diakhiri dengan duduk memandangi air sungai yang kotor dan hitam karena banyaknya limbah yang tercampur di sana.

Curug Jompong
Setelah puas memotret, saya memutuskan untuk segera naik. Pasalnya, saya merasa ada yang mengikuti dari belakang. Cuma perasaan saja sih, namun hal itu tidak membuat saya nyaman untuk berlama-lama di bawah. Akhirnya saya naik kembali menuju jalan, dan menuju pabrik batu bata tempat saya memarkir motor.

Dalam obrolan saya dengan pak Dede Majid, seorang pekerja di pabrik pembuatan bata. Curug Jompong sering dikunjungi oleh pengunjung yang bertujuan untuk sekedar foto-foto atau penelitian. Selain itu, para pejabat terkait sering datang melakukan inspeksi, termasuk gubernur Jawa Barat.

Mengenai air Citarum yang hitam, pak Dede mengatakan bahwa hal itu sudah biasa terjadi di musim kemarau. Barulah di musim hujan, air Citarum akan berwarna kuning kecoklatan.

Curug Jompong
Ketika menyadari bahwa hari saat kami berbincang adalah senin pagi, pak Dede sepertinya menyayangkan hal tersebut terjadi. Beliau mengatakan bahwa Senin pagi adalah waktu yang tabu untuk turun ke Jompong. Jika pengunjung datang di hari Senin, pak Dede menyarankan untuk turun setelah tengah hari. Ketika saya menanyakan mengapa, beliau hanya menerangkan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saja. Pantas saja sih… 🙂

Siang itu, saya kembali ke Bandung melalui jalur Marga asih, Cijerah, Sumbersari, Soekarno Hatta, Pasirkoja, Lingkar Selatan menuju Buah Batu. Perjalanan yang menyenangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *