April 8, 2020

Ke Bungbulang di Ujung Tahun 2019

Rancaekek, 7 Januari 2020,
Tujuh hari yang lalu tepat, saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke Garut Selatan, tepatnya menyusuri jalan raya yang menghubungkan Cikajang dan Cisewu, melewati Bungbulang. Tidak ada maksud lain, kecuali ingin memberi kenang-kenangan pada diri sendiri, dan jalur di belakang Gunung Papandayan ini memang belum pernah saya lewati seumur hidup.

Pertigaan Cikajang Bungbulang, Kabupaten Garut

Sekitar setengah sebelas siang, saya meluncur dari Rancaekek menuju Cikajang melewati Ibun dan kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kawah Kamojang. Di tempat yang pernah membuat Charlie Chaplin terpukau ini, saya berhenti sejenak dan mengambil beberapa gambar buat akun Instagram. Dalam kunjungan keduanya ke Hindia Belanda, Chaplin pernah seharian menyusuri Kamojang. Saking terkesannya, Chaplin sempat berjanji akan kembali ke Hindia Belanda untuk mengunjugi Kamojang. Janji yang kemudian tidak pernah dia tepati.

Kawah kamojang - Pahepipa

Di sela gerimis, saya memacu motor melalui Samarang dan Bayongbong. Hujan yang besar di Cisurupan, membuat saya berhenti dan berteduh di dalam pasar. Untung saja hujan hanya turun sebentar dan saya bisa meninggalkan kota yang secara sementara pernah menjadi pusat administrasi Jawatan Kereta Api Republik Indonesia semasa perang revolusi.

Mendekati Cikajang, hujan kembali turun dengan deras. Di pertigaan besar, saya kembali berteduh sekaligus menikmati makan sore. Sebelum menuju Bungbulang, saya menuju pom bensin Cikajang terlebih dahulu untuk menyelesaikan urusan perut. Setelah beres, saya mengambil arah kembali ke pertigaan tadi, menuju Bungbulang.

Gunung Papandayan

Jalan raya yang menghubungkan Cikajang dan Cisewu relatif bagus. Sebagian besar jalan diplester aspal yang mulus sehingga memudahkan kita untuk memacu kendaraan lebih cepat. Di sebuah pertigaan , saya ingat kalau saya pernah melewati jalan tersebut dari arah utara, yaitu dari arah Perkebunan Sedep. Jalan tersebut dapat diakses dari Pangalengan menuju Garut melewati perkebunan teh yang cukup luas. Jalur Sedep dibangun oleh perkumpulan Bandung Vooruit untuk jalur wisata sepanjang 7 km menuju Kawah Papandayan di tahun 1935. Kini, jalan tersebut didominasi oleh jalan tanah dan bebatuan khas perkebunan.

Di antara lembah dan sungai-sungai, jalan menuju Bungbulang dibuat berbelok, menanjak, dan menurun. Beberapa rambu peringatan dipasang supaya kita tetap waspada saat mengendarai kendaraan bermotor. Sedikit lelah dengan perjalanan itu, saya singgah di warung kopi dan bertanya kondisi jalan menuju Bungbulan dan Cisewu. Dengan ramah, si Bapak penjaga warung mengatakan bahwa jalan ke Bungbulang masih sangat jauh. Karena beliau tahu saya kembali menuju Bandung, si Bapak menyarankan saya untuk kembali saja. Setelah diterangkan, si Bapak memberi tahu kalau jalan ke Bungbulang dan pertigaan Cisewu relatif mulus dan ramai. Saya pun melanjutkan perjalanan kembali.

Pamulihan - Bungbulang, Kabupaten Garut

Di masa lalu, Bungbulang tercatat sebagai daerah penghasil kopi yang ada di bawah Distrik Kandangwesi. Sejarawan Susanto Zuhdi menuliskan, terdapat satu gudang kopi di Bungbulang yang menampung kopi yang dihasilkan daerah di sekitarnya. Kopi-kopi tersebut di awal tahun 1880 diangkut menuju Banjar, sebelum kembali diangkut melalui Citandui menuju Pelabuhan Cilacap. Arah transportasi angkuta kopi ini berubah, setelah kereta api masuk ke Kota Bandung di tahun 1884, dimana kopi dari Bungbulang dan sekitarnya diangkut menuju Bandung.

Setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan, saya tiba di Alun-alun Bungbulang. Di sana, saya sebenarnya sempat mengambil foto tulisan Alun-Alun. Akan tetapi, foto tersebut ternyata tidak ada di dalam memori HP. Mungkin terjatuh saat saya mengambil arah pulang ke Bandung. Hehehe

Bungbulang, Kabupaten Bandung

Dari pertigaan Cisewu-Rancabuaya, saya langsung mengambil jalan kanan menuju Bandung. Matahari sudah turun ke laut barat dan kegelapan mulai menyelimuti. Saya melewati jalur biasa ke Bandung melewati Talegong, Cukul, Cileunca, Pangalengan, Banjaran, dan Dayeuhkolot.

Sebelumnya, ada niat untuk menikmati malam tahun di Bandung bersama rekan-rekan di sekretariat Komunitas Aleut. Namun, rencana itu saya batalkan karena perjalanan tersebut ternyata membuat mata saya ingin segera terpejam. Motor pun saya arahkan menuju jalan pulang.

Benar saja, sesaat setelah tiba di rumah, mata langsung tertutup pas kepala bersandar di bantal. Padahal beberapa saat sebelumnya, teman saya sudah mengirim desain ucapan Selamat tahun Baru yang harus diupload tengah malam di Akun Simamaung.
Bablas ….

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *