June 22, 2021

Kecelakaan Seorang Haji di Stasiun Cibatu

“Bagaimana caranya supaya perempuan tahu kalau kita suka?” tanya temanku kepadaku, saat kami sedang menunggu kereta api menuju Bandung, di Stasiun Cibatu, suatu hari di Oktober 1913. Sebelum kereta kami tiba, sebuah kereta api dari Bandung akan masuk terlebih dahulu, disusul kereta api arah Garut yang akan berangkat tidak lama setelahnya.

“Tinggal bilang saja,” balasku pendek, seraya menyaksikan kereta api dari Bandung tiba di stasiun lumayan besar itu.

Orang-orang yang akan menuju Stasiun Garut segera bergegas turun untuk naik kereta yang telah disediakan di jalur lebih selatan. Dari kejauhan, kami lihat seorang lelaki berpakaian dan berpeci putih turun pula bergegas. Dia kelihatan saleh, dan tampak kesulitan membawa barang-barangnya.

“Aku gak berani, gak mungkin perempuan itu akan melirikku yang tidak punya apa-apa ini,” sengit temanku.

“Ya sudah, selesaikan dulu masalah pribadi kamu, nanti dekati lagi” ujarku, bersamaan dengan keberangkatan kereta api menuju Garut itu. Sementara temanku, hanya terdiam, mungkin sedang meratapi nasib buruk yang selalu menimpanya.

Semakin lama, laju kereta api terlihat semakin cepat. Lelaki kecil itu ternyata masih di bawah setelah menaikkan barang terakhirnya ke gerbong.

Dia terlihat tidak ingin tertinggal dan berusaha mengejar salah satu gerbong. Malang, pria itu terpeleset saat naik, dan tubuhnya terhempas di antara sambungan dua gerbong. Kami hanya bisa terpaku, saat roda-roda kereta kemudian mencabik-cabik tubuhnya.

“Berusahalah dulu broer, nasib orang siapa tahu,” tutupku.

Sumber:
Vreeselijk Ongeluk, De Preangerbode, Bandung, 9 Oktober 1913.
Officieele Reisgids voor Spoor- en Tramwegen op Java, 5e Uitgave 1 Januari 1900, Semarang, G. C. T. Van Dorp & Co.

Fiksi sejarah ini ditulis untuk mengikuti program 30 Hari Bercerita di awal tahun 2021, di Akun Instagram @30haribercerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *