January 27, 2021

Hasskarl, dari Sauropus Macranthus Sampai Kina

“Kita harus lebih cepat,” pintaku pada orang-orang, termasuk seorang lelaki berkulit putih nan pucat. Di antara pohon-pohon hutan tropis Peru, kami membawa peti-peti kayu. Peti ini berisi bibit kina yang berhasil kami tanam selama setahun terakhir di sana.

Namanya Justus Karl Hasskarl, dia merupakan botani yang berasal dari Jerman. Permintaan dari pemerintah Hindia Belanda membuat kami melanglang buana ke negara Amerika Latin, Peru di tahun 1853.

Kami bertemu di kota sunyi bernama Bandung. Karl dengan sangat bangga memperlihatkan koleksi tumbuhan yang dia temukan di Jawa Barat. Termasuk satu semak dengan buah berwarna merah yang dia temukan di lereng Gunung Salak. “Aku akan menamainya Sauropus Macranthus, dan aku akan menuliskannya dalam bukuku, Retzia” ujarnya bangga.

Karena tertarik dengan petualangan dan penelitian Karl, aku memutuskan untuk mengikutinya. Tidak ada lagi yang bisa aku cari di kota kecil di tengah pegunungan ini, termasuk senyum manis hijaber yang harus juga aku lupakan karena sangat dilindungi oleh keluarganya itu.

“Tetap waspada Muller,” ujarku padanya, saat kami mendekati batas hutan dan garis pantai. Muller adalah nama samaran Hasskarl selama di Peru. Setahun lamanya, aku harus memanggilnya dengan nama samaran ini, supaya misi kami dari Gubernur Jenderal Pahud tidak tercium pihak pemerintah setempat.

Sementara langit mulai temaram, kami menyiapkan beberapa sekoci untuk membawa kami ke tengah lautan. Di kejauhan, kulihat lampu kecil kelap-kelip dari kapal besar yang diapit dua kapal perang Hindia Belanda. Kapal-kapal yang akan membawa kami kembali, dengan bibit-bibit kina ini, menuju Hindia.

Fiksi sejarah ini ditulis untuk mengikuti program 30 Hari Bercerita di awal tahun 2021, di Akun Instagram @30haribercerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *