April 8, 2020

Naik ke Mercu Suar Legok Jawa di Pangandaran

one thing you should realize, you can do more than you think” – Ridwan Hutagalung

Saya adalah orang yang termasuk takut akan ketinggian. Ketakutan ini terjadi, jika saya sedang berada di bangunan atau tempat yang tinggi. Di ketinggian beberapa meter saja, saya akan merasa tidak nyaman. Awalnya, kaki akan merasa tidak menapak bumi. Jika ketinggian bertambah, saya merasa lantai yang saya pijak bergoyang, sampai kaki saya bergetar karena takut bangunan itu miring, bahkan runtuh. Atau saat berada di tempat-tempat tinggi tersebut, saya merasa badan saya seolah condong ke depan dan akan terjatuh.

Menara Mercu Suar Legok Jawa Pangandaran

Takut akan tempat tinggi atau acropobhia merupakan ketakutan yang ekstrim terhadap ketinggian. Kapan saya mengidap ketakutan ini tidak dapat dipastikan. Yang jelas, saya mengalami gejala-gejala aneh seperti yang saya sebutkan di atas, jika berada di ketinggian tertentu.

Menara Mercu Suar Legok Jawa Pangandaran

Menara Mercu Suar Legok Jawa Pangandaran

Selasa, 15 Agustus 2016 lalu, saya mengunjungi sebuah menara mercusuar dan bertekad menaklukannya. Mercusuar ini terletak di pantai Legok Jawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Menara ini mempunyai tinggi 40 meter. Tidak ada tekad yang spektakuler di sana, saya hanya ingin merasakan batas ketakutan yang saya miliki.

Menara mercusuar Legok Jawa, merupakan bagian dari alat navigasi di bawah koordinasi kerja pelabuhan Cilacap. Menara ini bisa dicapai dari jalur Pangandaran-Cikalong dari 2 jalan masuk berbeda. Pertama, dari kecamatan Cimerak ke arah pantai Madasari, Jika kita menemukan pantai, maka menara dapat dicapai jika kita belok ke kanan atau arah barat. Dan kedua, dari arah desa Legok Jawa menuju pantai Madasari, tepatnya setelah melewati venue pacuan kuda yang akan dipakai arena PON 2016.

Menara Mercu Suar Legok Jawa Pangandaran

Untuk mencapai puncak menara itu, pengunjung harus melewati 131 anak tangga yang terbuat dari besi yang di beberapa bagian sudah berkarat bahkan diikat dengan tali. Usaha yang harus dilakukan secara hati-hati. Tantangan lain pada saat itu, pendakian tangga saya lakukan dengan kondisi bahu kiri yang masih belum bisa bekerja dengan sempurna.

Pasalnya, sehari sebelum Idul Fitri, saya terjatuh ketika mengendarai motor. Kecelakaan itu membuat bahu saya terasa nyeri jika digerakkan. Dari hasil rontgen, dokter di RS Halmahera Bandung menyimpulkan, tulang di bahu saya retak dan harus beristirahat selama 5 pekan. Sialnya lagi, kecelakaan itu kembali menimpa saya beberapa hari lalu, dengan posisi, dan cara jatuh yang sama. Keledai memang.

Menara Mercu Suar Legok Jawa PangandaranDengan kondisi itu, saya mulai menaiki anak-anak tangga menara. Satu dua lantai saya lewati dengan hati-hati. Semakin tinggi anak tangga yang saya pijak, semakin negatif pemikiran yang ada di otak saya, dan kaki saya semakin bergetar. Ada dialog hebat antara keinginan dan ketakutan di kepala saya saat itu. Keinginan saya yang terus ingin naik, dilawan oleh ketakutan saya yang terus memberi sinyal bahwa menara sedang oleng, atau pemikiran bagaimana jika terjadi gempa dan menara runtuh. Saya belum siap untuk mati.

Di lantai 7, saya berhenti. Saya memandang tangga vertikal yang saya hadapi sambil merenung. “Benarkah yang sudah saya lakukan? Apakah saya tidak akan terjatuh? Apakah menara ini tidak akan runtuh?” Akhirnya saya memutuskan untuk terus naik, dan menaiki tangga itu dengan kaki yang bergetar, satu per satu.

Untungnya, puncak menara berbentuk ruangan sehingga pandangan saya tidak langsung ke alam sekitar karena terhalang dinding. Saya pun terduduk sejenak di bawah lampu mercusuar dan tidak berani menatap keluar. Padahal, pemandangan spektakuler menunggu di sana. Hamparan Samudera Hindia menunggu untuk dijamah di sebelah selatan. Sebaliknya di sebelah utara, landscape pemandangan hijau dan pegunungan di kejauhan amat sangat memanjakan mata.

Saya mulai memberanikan diri memotret bagian dalam puncak mercusuar. Perasaan takut mercusuar oleng dan runtuh itu masih tetap menghantui. Solar cell, baterai, kemudian lampu mercusuar, adalah materi-materi yang menjadi objek kamera HP Dengan sesekali, mata melirik ke luar, mencari apa, entah.

Menara Mercu Suar Legok Jawa Pangandaran

Ketakutan membuat saya tidak berani keluar pintu dan hanya memotret sekitar dari jendela di puncak menara. Walaupun dalam waktu singkat, keinginan untuk turun kembali akhirnya saya luluskan. Singkat memang, tapi keinginan sudah dicapai, dan itu yang terpenting.

Setelah itu, saya turun kembali dan kemudian terengah dan merenung di lantai 7. Di lantai sempit itu, lutut saya masih gemetar, sementara pantat merasakan lantai sedang bergoyang. Konflik batin terus terjadi, dan saya terus meyakinkan diri bahwa itu hanyalah bayangan saja.

Pengakuan bahwa saya keterlaluan kali ini, terucap dalam dialog-dialog di dalam kepala. Satu sisi kepala saya mengatakan bahwa saya merasa sudah melewati batas dengan naik ke menara ini. Sedangkan sisi kepala lainnya mengatakan bahwa tindakan saya sudah tepat, terutama untuk mengetahui batas kemampuan dan ketakutan dalam hidup. Dan yang tak kalah penting, saya sudah melakukan hal yang tidak berani saya bayangkan sebelumnya.

Setelah keadaan mulai terkendali, saya kembali untuk turun. Perlahan, satu persatu anak tangga sedikit reyot itu saya pijak. Suatu pengalaman yang lumayan luar biasa untuk saya. Saya berjanji, suatu hari saya harus ke sini lagi untuk balik berdialog dengan ketakutan.

Kembali sendirian tentunya….

Ditulis dan diupload tanggal 29 Agustus 2006, untuk blog pribadi penulis di hevifauzan.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *