August 3, 2021

Sangkuriang dan Toponimi Gunung Bohong

(Gunung Bohong dan para Internir di Cimahi, 1942-1945. Sumber: geheugen.Delpher.nl)

“Sangkuriang, berhenti!!” seruku pada seorang yang gagah namun berhati rapuh itu. Setelah menendang perahu yang dibuat semalaman, ia berlari ke arah barat, di antara air yang mulai menggenangi daratan.

“Kalian para jin, gak berguna. Berjanji untuk membuat danau dalam semalam, mana?” gusar Sangkuriang kepada kami.

Sangkuriang marah, ketika dia mendengar ayam-ayam jantan di dataran tinggi mulai berkokok sebagai tanda fajar ‘kan segera tiba. Padahal, hari masih gelap.

“Enak saja menduduh kami. Tegakkan kepalamu, fajar belumlah muncul, dan akan datang beberapa saat lagi,” ujarku membela diri. Pria bertubuh kekar itu mulai tersadar, dan baru tau kalau dia telah diperdaya.

Di satu bukit di sebelah barat sungai Ci Mahi, Sangkuriang yang masih marah duduk murung. Kami para jin, memutuskan untuk mengundurkan diri saat fajar yang sebenarnya menyingsing. “Susah kalau sudah bucin tudemaks,” geliku dalam hati.

Di perjalanan pulang, kulihat dari kejauhan, perahu yang dia tendang sudah berubah menjadi sebuah gunung di utara. Pun sebuah danau sebagai bukti kerja keras kami telah terhampar luas.

Dari kejauhan juga, sayup kudengar Sangkuriang berteriak dari atas sebuah bukit: “Dayang Sumbi, Kamu bohong”.

Fiksi sejarah ini ditulis untuk mengikuti program 30 Hari Bercerita di awal tahun 2021, di Akun Instagram @30haribercerita.

📷 Gunung Bohong, Cimahi, geheugen.delpher.nl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *