December 1, 2020

Satu Perjalanan dan Misteri Nama Lampegan

Selain terowongan di Lampegan di bagian Preanger, yang panjangnya 632 meter, belum ada terowongan kereta api lain yang ditemukan di Jawa hingga saat ini. – (Gedenkboek uitgegeven ter gelegenheid van het vijftigjarig bestaan van het Koninklijk Instituut van Ingenieurs 1847-1897, 1897, hal. 294.)


Perjalanan kali ini terasa spesial, karena saya mengunjungi Stasiun dan Terowogan Lampegan, 19 Agustus 2020. Terowongan ini merupakan satu dari sekian terowongan kereta api yang ada di Jawa Barat dan menjadi terowongan pertama yang dibangun di Pulau Jawa. Tujuan kunjungan ini tentu saja untuk melihat keadaan terbaru objek sejarah berupa stasiun dan terowongan, sekaligus mengambil foto seperti yang sudah dilakukan oleh orang-orang sejak dahulu.

Dalam buku Naar Een Thee Land, De katholieke illustratie; zondags-lektuur voor het katholieke Nederlandsche volk, jrg 35, 1901-1902, no 40 (1901), orang-orang Belanda sangat antusias saat berkunjung ke Lampegan. Salah seorang perempuan menulis: “Betapa senangnya kami ketika akhirnya berdiri dengan aman di luar terowongan. Sinar matahari, yang dengan berani menyinari kami, disambut dengan riang. Dan suamiku memanfaatkan momen mengambil beberapa “foto” dari sisi terowongan dan stasiun Lampegan itu.

Di Rabu siang itu, saya menghela motor menuju Stasiun dan Terowongan Lampegan dari arah Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Ada banyak jalur alternatif yang bisa dipakai untuk menuju stasiun yang ada di ketinggian 439 mdpl ini. Misalnya, kita bisa mengambil jalan dari Pasar Gekbrong. Atau, jika datang dari arah timur seperti Bandung, kita bisa juga mencapai Lampegan melalui Cibeber.

Dari pertigaan itu, saya melalui jalan beton yang cukup mulus sepanjang 14 km. Pemandangan pedesaan yang dipadu perbukitan dan persawahan cukup menemani perjalanan di bawah sinar matahari menuju sore itu. Ada dua pertigaan besar yang akan kita dapat di sana. Pertama, adalah pertigaan menuju Cibeber ke arah timur. Pertigaan kedua adalah jalur menuju Gunung Padang, di dekat persilangan rel kereta api. Karena akan melewati jalan pedesaan, usahahakan supaya bakan bakar kendaraan terisi penuh, kecuali kita akan membeli di warung-warung dengan resiko kehabisan bahakn bakar di tengah keheningan. Pom bensin terdekat ada di Jalan besar daerah Gekbrong dengan pemandangan Gunung Gede di kejauhan.

Lampegan merupakan satu nama halte yang ada di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS) membangun jalur kereta api melewati kawasan berbukit ini sebagai bagian dari pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Bogor dan Cicalengka. Secara resmi, terowongan ini dibuka saat pembukaan bagian yang menghubungkan Sukabumi dan Cianjur, 10 Me 1883.

Bagi SS, melewati kawasan Priangan adalah tantangan tersendiri saat itu. Mereka harus melewati bentang alam pergunungan yang dihiasi sungai, lembah, jurang, dan perbukitan. Di titik Lampegan inilah, mereka membuat satu terowongan sepanjang 632 meter untuk menembus perbukitan sebelah selatan Gunung Kancana, di tahun 1879-1882.

Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama saya menggunakan motor ke daerah tersebut. Biasanya, saya singgah atau beberapa kali lewat Stasiun dan Terowongan Lampegan dengan menggunakan kereta api. Terutama, saat kereta api Argo Peuyeum yang menghubungkan Stasiun Bandung dan Stasiun Sukabumi masih aktif. Saya ingat saat itu, rangkaian kereta api tidak lebih dari dua gerbong penumpang yang dihela oleh satu lokomotif BB. Kedua stasiun besar ini tidak lagi dilayani oleh kereta api secara langsung, sejak Lampegan lonsor di tahun 2001 (Lintas Bogor Sukabumi Bandung, Heritage PT Kereta Api Indonesia, Link: https://heritage.kai.id/page/Lintas%20Bogor%20Sukabumi%20Bandung).

Saat ini, kereta api dapat melewati Terowongan Lampegan setelah terowongan ini diperbaiki di sekitar tahun 2010. Jika kelak jalur kereta api antara Ciranjang dan Padalarang sudah selesai direnovasi, bukan tidak mungkin kita bisa menikmati perjalanan kereta api dari Bandung, melewati terowongan ini entah menuju Sukabumi maupun Bogor.

Sejak jaman dahulu, terowongan Lampegan memang sering mengalami longsor. Di masa kolonial, keadaan longsoran di mulut terowongan dituliskan oleh seorang sang perempuan tadi yang menjadikan halte Lampegan sebagai salah satu tujuan perjalanannya.

Tanah longsor terjadi tepat sebelum terowongan besar di stasiun Lampegan, sehingga kami hanya bisa melihat sedikit pintu masuk.” (Naar Een Thee Land, De katholieke illustratie; zondags-lektuur voor het katholieke Nederlandsche volk, jrg 35, 1901-1902, no 40, 1901)

Sesaat setelah jalur ini diaktifkan di tahun 1883, pergeseran tanah di sekitar terowongan sempat merusak gudang batu bara dan memecahkan kolom keran air . Para penumpang harus dipindahkan ke gerbong yang ada di sisi lain longsoran, dan pengoperasian kereta barang untuk sementara dihentikan (Java-bode, 05-12-1883).

Ada beberapa versi tentang penamaan Lampegan sebagai nama terowongan yang dibangun selama dua tahun ini. Dalam buku Jendela Bandung (2007), Her Suganda menuliskan bahwa selama pengerjaan terowongan ini, para pekerja selalu diteriaki oleh Van Beckman, pengawas pembangunan terowongan. Pria yang juga merupakan pengusaha perkebunan ini selalu berteriak: “lamp pegang, lamp pegang…” (pegang lampunya..), saat memantau para pekerjanya yang sedang membobol bagian dalam terowongan yang tentunya gelap gulita.

Peta Lampegan di antara Sukabumi dan Cianjur, tahun 1894.

Versi lain dari penamaan Lampegan adalah bahwa kata itu berasal dari masinis kereta api di masa lampau yang selalu meneriakkan “Lampen aan! Lampen aan!” saat kereta akan memasuki terowongan. Teriakan masinis ini sebagai perintah agar para pegawainya menyalakan lampu. Ini selaras dengan arti kata “Lampegan” yang termaktub dalam Kamus Basa Sunda (2015) karya R.A. Danadibrata. Dalam kamus tersebut, Lampegan tertulis sebagai kata yang mempunyai arti “kata yang diambil dari kebiasaan saat terowongan [Lampegan] dibuka. Setiap kereta api sudah dekat terowongan itu, kondektur Belanda menyuruh anak buahnya untuk menyalakan lampu dengan kata ‘lampeu-an’.”

Selain itu, penamaan Terowongan dan Stasiun Lampegan bisa mengacu pada asal kata “lampegan” dalam Bahasa Sunda. Dalam Kamus Bahasa Sunda tulisan R. Satjadibrata, kata “lampegan” mempunyai arti “ngaran tatangkalan leutik” atau “satu nama pohon kecil (R. Satjadibrata, Kamus Bahasa Sunda). Selain di Cianjur, kita bisa menemukan nama ini sebagai nama tempat/daerah, seperti di Ibun, Majalaya misalnya. Namun menurut Irfan Teguh, penggunaan nama ini kurang populer (Irfan Teguh, Kisah Terowongan Sasaksaat dan Lampegan, Tirto, Link: https://tirto.id/kisah-terowongan-sasaksaat-dan-lampegan-ddsG)

Menariknya, jika kita menelusuri sejarah kawasan di sekitar Lampegan Cianjur, kita akan disuguhkan pada kemungkinan sebab penamaan Lampegan sebagai stasiun di sana. Mengacu pada dokumen kolonial, nama Lampegan sudah ada di daerah tersebut sejak tahun 1870-an. Dalam Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indie¨ tahun 1874, Lampegan tertulis sebagai nama satu persil yang disewakan untuk perkebunan Kopi Liberia milik W. G. Crol. Selain Lampegan, tertulis pula persil Gunung Rosa, Gunung Melati, Cibitung di bawah administrasi Distrik Peser (Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indie¨, 1874, Deel: 1, 1874, halaman 326-327).

Nama ini tertulis dalam berita-berita pembangunan jalur kereta api Priangan di sekitar tahun 1880-an, termasuk saat pembuatan stasiun dan terowongan di Lampegan. Di koran-koran tertulis, Lampegan menjadi tempat tinggal para pengawas proyek serta pembakaran semen dan oven batubata (Aanleg van de lijn Buitenzorg—Preanger Regentschappen, Java Bode, 2 Januari 1880).

Setelah jalur kereta api diaktifkan, beberapa perusahaan perkebunan di sana mengangkut produk mereka dengan memanfaatkan transportasi kereta api. Selain itu, beberapa perusahaan menjadikan Stasiun Lampegan sebagai alamat mereka. Koran De Preanger Bode menyebut, di Lampegan terdapat gudang untuk menampung hasil kopi. (Officiëele Berichten, De Preanger-bode, 10 Mei 1897)

Sekarang, Lampegan merupakan stasiun yang sepi karena memang terpencil dan jauh dari keramaian. Tidak ada lagi gudang kopi atau kegiatan bongkar muat produksi perkebunan di sana. Stasiun Lampegan saat ini hanya dilayani oleh Kereta Api Siliwangi yang menghubungkan Stasiun Ciranjang, Cianjur, dan Sukabumi. Karena relatif sepi, warga lokal memanfaatkan terowongan ini sebagai jalan pintas dari arah Cireungas Sukabumi ke Lampegan Cianjur, atau sebaliknya.

Setelah puas ngopi, berfoto, dan menyaksikan kereta api dari arah Cianjur masuk ke terowongan, saya memutuskan pulang ke Bandung. Di perjalanan tersebut, saya mengambil pulang ke arah Cibeber, mengambil arah kanan ketika berada di pertigaan tadi. Kenapa gak ke Gunung Padang? Mungkin lain kali aja.

Ditulis oleh:Hevi Fauzan, Komunitas Aleut, Manajer Konten di Simamaung.com, Sertifikasi Tim Ahli Cagar Budaya 2019 dari Provinsi Jawa Barat. Hevi Fauzan dapat dihubungi via akun Ig dan twitter @pahepipa.

Artikel ini juga dipublikasikan di web Komunitas Aleut dengan judul yang sama: Satu Perjalanan dan Misteri Nama Lampegan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *